Selasa, 10 Juni 2014

DAFTAR RIWAYAT HIDUP




INFORMASI PRIBADI

Nama
Alamat
Telepon
HP
Email
Tanggal Lahir
Kebangsaan
Jenis Kelamin
Status
: Ade Kurniawan
: Jl. Radjiman widyo diningrat
: (021) 478 xxx
: 08123 34 xx
: akuer12@rocketmail.com
: 09 November 1993
: Indonesian
: laki-laki
: Belum Menikah

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

KUTIPAN

KUTIPAN

Pengertian:

Kutipan adalah pengulangan satu ekspresi sebagai bagian dari yang lain, terutama ketika ekspresi dikutip terkenal atau eksplisit dihubungkan dengan kutipan ke sumber aslinya, dan ditandai oleh (diselingi dengan) tanda kutip.
kutipan A juga dapat merujuk kepada penggunaan berulang unit bentuk lain ekspresi, terutama bagian dari karya seni: unsur-unsur sebuah lukisan, adegan dari film atau bagian dari suatu komposisi musik.
Sisa dari artikel ini hanya alamat tertulis atau kutipan lisan.

Kutipan, sebuah kata yang mungkin semua orang belum mengetahui maksudnya apa. Disini saya akan mengulas sedikit mengenai kutipan. Kutipan adalah gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya.

Tujuan:

Dalam tulisan ilmiah, baik berupa artikel, karya tulis, skripsi, tesis, dan disertasi selalu terdapat kutipan. Kutipan adalah pengokohan argumentasi dalam sebuah karangan. Seorang penulis tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain, penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut. Dengan demikian kutipan memiliki fungsi sebagai:
·         landasan teori
·         penguat pendapat penulis
·         penjelasan suatu uraian
·         bahan bukti untuk menunjang pendapat itu

Berdasarkan fungsi di atas seorang penulis harus memperhatikan hal-hal berikut:
·         penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu
·         penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
·         kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
·         jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung
·         penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
·         perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan

Fungsi Kutipan:

Kutipan memiliki fungsi tersendiri. Fungsi dari kutipan adalah sebagai berikut :
·         Menunjukkan kualitas ilmih yang lebih tinggi.
·         Menunjukkan kecermatan yang lebih akurat.
·         Memudahkan penilaian penggunaan sumber dana.
·         Memudahkan pembedaan data pustaka dan ketergantungan tambahan.
·         Mencegah pengulangan penulisan data pustaka.
·         Meningkatkan estetika penulisan.
·         Memudahkan peninjauan kembali penggunaan referensi, dan memudahkan penyuntingan naskah yang  terkait dengan data pustaka.

Rabu, 30 April 2014

PENALARAN INDUKTIF

Penalaran merupakan pemikiran, logika, pemahaman. Penalaran adalah proses berpikir yang dapat menghasilkan pengertian atau kesimpulan. Penalaran berlawanan dengan panca indera karena, nalar didapat dengan cara berpikir sehingga dapat mengetahui suatu kebenaran.

Induktif merupakan hal yang dari khusus ke umum. Sehingga dapat dikatakan berpikir induktif adalah pola berpikir melalui hal-hal yang dari khusus lalu dihubungkan ke hal-hal yang umum.
Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.

Contoh penalaran induktif : kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kelinci berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Panda berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, alumunium, tembaga dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanaskan akan bertambah panjang. Biasanya penalaran induktif ini disusun berdasarkan pengetahuan yang dianut oleh penganut empirisme.

Karangan Ilmiah

Karangan Ilmiah, Non Ilmiah dan Semi Ilmiah

      Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dalam artikel ini akan dibahas tentang 3 jenis karangan, yaitu: karangan ilmiah, karangan non ilmiah, dan karangan semi ilmiah. Berikut ini penjelasannya.
1. Karangan Ilmiah
      Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
      Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.
      Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

Tujuan dari pembuatan karangan ilmiah :
1. Memberi penjelasan
2. Member komentar atau penilaian
3. Memberi saran
4. Menyampaikan sanggahan
5. Membuktikan hipotesa


Senin, 31 Maret 2014

LAMPU OTOMATIS ( TEPUK )

LAMPU OTOMATIS (TEPUK)

Analisa Lampu otomatis (tepuk)
Disini saya memakai IC LM7358 yaitu IC pembanding  kemudian dengan beberapa komponen tersebut . apabila lampu ini di tepuk dengan tangan otomatis dari sensor tepuk ini akan merubah suara ke energy Listrik dengan Ic tersebut . disini alat saya menggunakan 1 RELAY dan POTENSIOMETER . disini potensiometer ini mengatur sensitivitas pada sensor tersebut .

LATAR BELAKANG MASALAH
Kenapa saya membuat Lampu otomatis karena kalo menurut saya lebih menghemat kabel dan sangat sederhana untuk menyalakan lampu cukup dengan menepuk tangan kita sendiri dan  lampu ini tidak bahaya karena banyak transistor dan komponen lainnya untuk menetralisir adanya konsleting pada Listrik atau jalur yang akan dilewati oleh arus .


Berikut cara Kerja Lampu Otomatis (tepuk).

Apabila mic condenser menangkap suara, maka ia akan merubahnya menjadi sinyal listrik. sinyal listrik tersebut besar kecilnya tergantung dari suara yang ditangkap. sehingga perlu IC komparator LM358 sebagai pembanding, terbaca logika 1 atau logika 0 sesuai input sinyal suara tadi. kemudian akan direspon oleh relay. 


Daftar Komponen :
1. IC LM358
2. R1 : 10 K Ohm
3. R2 : 39 K Ohm
4. R3 : 1 K Ohm
5. R4 : 1 M Ohm
6. R5 : 10 K Ohm
7. R6 : 2,2 K Ohm
8. R7 : 1 K Ohm
9. R8 : 1 K Ohm
10. C1 : 100 pF
11. C2 : 2,2 uF / 25 Volt
12. C3 : 100 nF
13. C4 : 10 uF / 25 Volt
14. C5 : 2,2 uF / 25 Volt
15. D1 : 1N4148
16. D2 : 1N4148
17. D3 : LED
18. D4 : 1N4002
19. D5 : 1N4002
20. Mic Condenser
21. Potensiometer : 200 K Ohm ( Didunakan untuk mengatur sensitivitas sensor )
22. Transistor TIP 41
23. Relay : 12 Volt DC


Minggu, 30 Maret 2014

SILOGISME DAN ENTITMEN

NAMA : ADE KURNIAWAN
KELAS : 3KB04
NPM     : 20111122
BAHASA INDONESIA #

Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
1. Jenis-jenis Silogisme
2. Berdasarkan bentuknya, silogisme terdiri dari;
3. Silogisme Kategorial
4. Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
Akasia adalah tumbuhan (premis minor).
Akasia membutuhkan air (Konklusi)
Hukum-hukum Silogisme Katagorik.
Apabila salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
Contoh:
Semua yang halal dimakan menyehatkan (mayor).
Sebagian makanan tidak menyehatkan (minor).
Sebagian makanan tidak halal dimakan (konklusi).
Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
Contoh:
Semua korupsi tidak disenangi (mayor).
Sebagian pejabat korupsi (minor).
 Sebagian pejabat tidak disenangi (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan.
Contoh:
Beberapa politikus tidak jujur (premis 1).
Bambang adalah politikus (premis 2).

Kedua premis tersebut tidak bisa disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka kesimpulannya hanya bersifat kemungkinan (bukan kepastian). Bambang mungkin tidak jujur (konklusi).
Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil jika salah satu premisnya positif.
Contoh:
Kerbau bukan bunga mawar (premis 1).
Kucing bukan bunga mawar (premis 2).

Kedua premis tersebut tidak mempunyai kesimpulan
Apabila term penengah dari suatu premis tidak tentu, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Contoh; semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin. Maka, binatang ini adalah ikan? Mungkin saja binatang melata.
Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term redikat yang ada pada premisnya. Apabila tidak konsisten, maka kesimpulannya akan salah.
Contoh:
Kerbau adalah binatang.(premis 1)
Kambing bukan kerbau.(premis 2)
 Kambing bukan binatang ?
Binatang pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis 1 bersifat positif
Trem penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.

Silogisme Entimen
Silogisme Entimen adalah yang kedua yaitu entimen. penalaran deduksi secara langsung.
Contoh :
Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur karena termasuk binatang mamalia. Proposisi proposisi atau kalimat terbuka Entimen Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh Entimen :
Anak itu pandai karena ia rajin belajar.
Entimem
Pada percakapan dalam kehidupan sehari-hari, suatu logisme seringkali diperpendek, yakni tanpa menyebutkan premis-premis umum. Seseorang lansung mengatakan kesimpulan yang diikuti dengan premis khusus sebagai penyebabnya. Bentuk silogisme seperti ini disebut entimem.

Rumus:
C = B, karena C = A

SUMBER 
http://id.wikipedia.org/wiki/Silogisme
http://sasyasigi.wordpress.com/category/lesson/wacana/

Selasa, 14 Januari 2014

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA


 Allan, Keith & Kate Burridge. 1991. Forbidden Words: Taboo and the Censoring of Language. Cambridge: Cambridge University Press.
 
 Artha, Arwan Tuti. 2009. Pers Kita dan Kebebasan Menggunakan Bahasa. Yogyakarta: Kedaulatan Rakyat.
 Arsih, Farida Yuni. 2010. “Studi Fenomenologis: Kekerasan Kata-Kata (Verbal Abuse) pada Remaja.”Riset Keperawatan. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
 
 Djajasudarma, T. Fatimah. 2006. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Reflika Aditama.
 Fauzi, Ma’mun. 2012. “Kekerasan Bahasa.” Diunduh pada tanggal 8 Maret 2012 dari http://mamunalfaqir.blogspot.com/2011/02/plato-plato-lahir-sekitar-427-sm.html?zx=416e10a27083fe77.
 Kurniawati, Heti. 2011. ”Eufimisme dan Disfemia dalam Spigel Online.” Litera. Volume 10, Nomor 1, April 2011, halaman 51-63.
 
Definition and Typology of Violence. Diunduh pada tanggal 8 Maret 2011 dari http://www.who.int/violenceprevention/approach/definition/en/index.html. 
 Kurniawati, Wati & Buha Aritonang. 2010. Kosakata Dominan Surat Kabar Ibukota dalam Kaitannya dengan Pembentukkan Opini Publik. Jakarta: Pusat Bahasa.
 Lueders, Beth J.   2002. ”Emotional   and   Verbal   Abuse”.     Diunduh       pada     tanggal 7 Maret 2011 dari http://www.troubledwith.com/AbuseandAddiction/A000000755.cfm?topic=abuse%20and%20addiction%3A%20physical%20and%20verbal%20abuse
 Leech, G. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman.
 
 Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
 Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya). Jakarta: Depdikbud.
 Purnomo, Maslhatif Dwi. 2011. ”Bahasa dan Kekerasan”. Diunduh pada tanggal 7 Maret 2012 dari http://pakarlinguistik.wordpress.com/2011/11/13/bahasa-dan-kekerasan-language-and-violance/
 Sumadiria, A.S. Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
 Suparmo, Artini. 2008. “Bahasa di Media Massa Bisa Jadi Pemicu Kekerasan”. Diunduh pada tanggal 7 Maret 2012 dari http://pwi.or.id/index.php/Berita-PWI/Bahasa-di-Media-Massa-Bisa-Jadi-Pemicu-Kekerasan.html
 Trianto, Agus. 2008. “Telaah Sarkasme Judul Berita Surat Kabar”. Makalah disampaikan pada kongres internasional IX bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.
 Wijana, I Dewa Putu. (1996). Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.
 Winarno, Sugeng. 2008. ”Kekerasan Verbal dalam Acara Komedi Televisi.” Publica, Vol.IV, No. 1, Januari 2008, halaman 16-22.
 Zamzani, dkk. 2011. ”Pengembangan Alat Ukur Kesantunan Bahasa Indonesia dalam Interaksi Sosial Bersemuka”. Litera, Volume 10, Nomor 1, April 2011, halaman 35-50.
http://sidicq.wordpress.com/2012/10/09/contoh-contoh-daftar-pustaka-yang-baik-dan-benar/

If Conditional

Ade Kurniawan Smithtown, CD 03264 001-930-41-15 Akuer12@emailexample.com Date George Ghodel XYZ Company 187 gates blouwm, R...